Akhirnya malam itu—untuk pertama kalinya dalam 3 tahun berhubungan— kau menodongku dengan pertanyaan yang sanggup membuatku terdiam tanpa sepatah katapun. Aku tahu cepat atau lambat topik serius itu akan terbahas juga. Aku hanya belum mempersiapkan diri bahkan untuk sekedar memberi jawaban. Topik itu selalu memberiku perasaan campur aduk ketika mengudara diantara kita. Takut, cemas, senang, dan mungkin sedikit sakit kepala.
Kau selalu bersemangat dan sudah sangat siap menempuh ibadah terlama itu sedangkan aku hanya memberikan balasan singkat, cenderung kurang excited. Bukan, bukan aku tidak ingin menghabiskan sisa waktuku denganmu. Tapi karena aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Bagaimana kalau ternyata aku tidak becus menjadi seorang isteri sekaligus ibu ? Apakah kau sanggup menghadapi hidup yang brengsek dengan orang yang kaku ini ? Pikiran - pikiran buruk itu selalu berputar- putar di kepalaku tanpa ampun, dan aku benci dengan kenyataan bahwa aku mendekati perumpamaan buruk itu.
Ah, sejujurnya hal yang memberatkanku untuk mengiyakan ajakan itu adalah karena aku tidak bisa begitu saja hanya membawa diriku tanpa mengeluarkan sepersen uang. Kau tahu kekasih, egoku setinggi langit. Banyak hal yang perlu aku—atau lebih tepatnya ‘kita’—persiapkan untuk memulai hidup bersama.
Aku mencintaimu, sangat. Mohon maklumi ketika aku juga ingin memperjuangkan kehidupan pernikahan yang layak itu. Aku tidak tahu apakah aku bisa, tapi aku berharap Tuhan berbaik hati dan memberikan kehidupan lebih dari yang aku doakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Vielen danken🍀