Jumat, 22 Agustus 2025

Perempuan

Aku selalu merasa bahwa laki - laki diperlakukan lebih baik di dalam rumah ketimbang perempuan. Rasa muakku semakin menjadi - jadi ketika perempuan diteriaki untuk mencuci piring, sedangkan laki - laki diteriaki untuk segera makan. Perlakuan yang kelewat timpang dan mirisnya masih saja ada yang mengadopsi kebiasaan aneh ini. Entah akal - akalan siapa bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan perempuan. Aturan mencengkram ini menegaskan bahwa perempuan hanya boleh berkutat di dapur, harus tunduk dan tidak boleh vokal. Para lelaki berpikir mencari nafkah saja sudah cukup melelahkan, ketika mereka melakukan pekerjaan rumah sekaligus akan menambah beban berkali lipat. Kemudian berdebat bahwa satu hari yang mereka habiskan untuk bekerja lebih melelahkan daripada pekerjaan domestik. Aku teringat potongan kalimat ini “pekerjaan laki - laki selesai ketika pulang ke rumah, sedangkan pekerjaan perempuan di rumah selesai ketika ia tidur”, dan aku tidak bisa tidak setuju. Terlalu fakta, juga menyedihkan. Aku juga teringat kalimat Kim Ji Young di buku Kim Ji Young Born 1982 bahwa dia memasak dan membersihkan rumah bukan karena dia perempuan atau kelak dia akan menjadi isteri, tapi dia melakukan itu untuk membantu orangtuanya yang sibuk bekerja. 

Hal tidak adil lainnya tidak hanya terjadi di dalam rumah tapi juga dalam lingkup yang lebih luas. Seperti perempuan yang tidak boleh berpendidikan lebih tinggi dari laki - laki atau perempuan yang tidak boleh berada di belakang meja kantor. Kesannya seperti perempuan harus selalu dibawah, dibodohi dan dilucuti.

Seseorang pernah berkata padaku ketika aku hendak melanjutkan pendidikan master-ku. Katanya aku ‘terlalu tinggi’ untuknya yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Egonya tersentil memikirkan perbedaan kami yang jauh ketika nanti berumah tangga. Aku tertegun dan pikiranku berkelana ke tahun - tahun yang akan datang. Selama beberapa hari aku memikirkannya dan menyadari bahwa aku tidak ingin menghabiskan seumur hidupku dengan orang yang tidak mendukungku untuk berkembang. Bahwa memutuskan hubungan dengan orang itu adalah hal paling masuk akal yang pernah aku lakukan. Kurasa kalimat Astrid “It’s not my job to make you feel like a man, I can’t make you something that you’re not” akhirnya relate dengan yang kualami. Bukan tugasku untuk menjadikannya “pria sejati” karena itu adalah tugasnya sendiri dan bukan tanggung jawabku untuk memenuhi ekspektasi yang dia inginkan.

Aku berharap tidak ada lagi penindasan terhadap perempuan dalam hal apapun. Perempuan yang melakukan pekerjaan rumah atau pekerjaan kantor derajatnya sama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Vielen danken🍀

gloomy

Hampa sekali. Aku sendirian. Aku ingin menumpahkan semua rasa tidak nyamanku ini sambil menangis. Aku bisa saja mengeluh tapi aku berpikir p...